Mengenal Sengon

Februari 8, 2010

Sengon dalam bahasa latin disebut Paraserianthes falcataria, termasuk famili Mimosaceae, keluarga petai – petaian. Di Indonesia, sengon memiliki beberapa nama daerah seperti berikut :
a. Jawa : Jeunjing, Jeunjing Laut (Sunda), Kalbi, Sengon Landi, Sengon Laut, atau Sengon Sabrang (Jawa).
b. Maluku : Seja (Ambon), Sikat (Banda), Tawa (Ternate), dan Gosui (Tidore)

Sengon dapat tumbuh pada lahan berketinggian 0 – 2.000 m diatas permukaan laut, dengan iklim A, B dan C bercurah hujan rata-rata 2.000-4.000 mm/tahun, pada kondisi lahan agak subur, serta memerlukan cahaya kuat. Selain sebagai salah satu tumbuhan yang dapat memperbaiki kesuburan lahan, sengon juga merupakan penghasil kayu yang produktif. Pohonnya dapat mencapai tinggi sekitar 30–45 meter dengan diameter batang sekitar 70 – 80 cm. Bentuk batang sengon bulat dan tidak berbanir. Kulit luarnya berwarna putih atau kelabu, tidak beralur dan tidak mengelupas. Berat jenis kayu rata-rata 0,33 dan termasuk kelas awet IV – V. Hingga berumur 5 tahun pertumbuhan tingginya mencapai 4 meter/tahun. Dapat ditebang setelah berumur 5-9 tahun.

Kayu sengon digunakan untuk tiang bangunan rumah, papan peti kemas, peti kas, perabotan rumah tangga, pagar, tangkai dan kotak korek api, pulp, kertas dan lain-lainnya.

Tajuk tanaman sengon berbentuk menyerupai payung dengan rimbun daun yang tidak terlalu lebat. Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok. Warna daun sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas.

Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol kepermukaan tanah. Akar rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon menjadi subur.

Dengan sifat-sifat kelebihan yang dimiliki sengon, maka banyak pohon sengon ditanam ditepi kawasan yang mudah terkena erosi dan menjadi salah satu kebijakan pemerintah melalui DEPHUT untuk menggalakan ‘Sengonisasi’ di sekitar daerah aliran sungai (DAS) di Jawa, Bali dan Sumatra.

Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina, dengan cara penyerbukan yang dibantu oleh angin atau serangga.

Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 – 30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil dan jika sudah tua biji akan berwarna coklat kehitaman,agak keras, dan berlilin.

Manfaat Kayu Sengon

Februari 8, 2010

Pohon sengon merupakan pohon yang serba guna. Dari mulai daun hingga perakarannya dapat dimanfaatkan untuk beragam keperluan.

1. Daun
Daun Sengon, sebagaimana famili Mimosaceae lainnya merupakan pakan ternak yang sangat baik dan mengandung protein tinggi. Jenis ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing menyukai daun sengon tersebut.

2. Perakaran
Sistem perakaran sengon banyak mengandung nodul akar sebagai hasil simbiosis dengan bakteri Rhizobium dapat membantu porositas tanah dan openyediaan unsur nitrogen dalam tanah. Dengan demikian pohon sengon dapat merubah struktur tanah dan membuat tanah disekitarnya menjadi lebih subur. Selanjutnya tanah ini dapat ditanami dengan tanaman palawija sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani penggarapnya.

3. Kayu
Bagian yang memberikan manfaat yang paling besar dari pohon sengon adalah batang kayunya. Dengan harga yang cukup menggiurkan saat ini sengon banyak diusahakan untuk berbagai keperluan dalam bentuk kayu olahan berupa papan papan dengan ukuran tertentu sebagai bahan baku pembuat peti, papan penyekat, pengecoran semen dalam kontruksi, industri korek api, plywood, pensil, papan partikel dan kayu lapis, bahan baku industri pulp kertas dll.

Ayo, Kita Hijaukan Negeri Kita!

Februari 8, 2010

Indonesia adalah zamrud khatulistiwa, dengan kekayaan alam yang luar biasa. Utamanya kekayaan hutannya, sehingga Indonesia dijadikan sebagai paru-paru dunia. Indonesia menjadi handalan utama supply oksigen dunia. Hijaunya negeri, menyelamatkan dunia. Namun, maraknya illegal loging, penebangan hutan yang tidak bertanggung jawab, telah mengancam kelestarian hutan Indonesia.

Pada tahun 1950, tercatat 84% daratan Indonesia merupakan hutan yang lebat. Namun dalam waktu 50 tahun hutan di Indonesia berkurang dari 162 juta hektar menjadi 88 juta hektar. Laju kehilangan hutan terus meningkat dari 1 juta hektar/tahun. Pada tahun 1980 meningkat menjadi 2 juta hektar/tahun. Laju kehilangan itu terus meningkat dan sejak tahun 1996 3.8 hektar/menit dan tercatat di guiness book of the records. Kasus kehilangan hutan ini sebangun dengan tidak sehatnya pertumbuhan dan perkembangan industri kayu Indonesia. 73% produksi kayu Indonesia adalah hasil illegal logging.

Fakta ini tentunya mengkhawatirkan dunia. Perubahan iklim yang ekstrem, hilangnya beberapa pulau dan daratan menjadi tanda agar manusia belajar untuk mengakrabkan diri dengan bumi tempat dia berpijak.

Birruna lahir dengan semangat untuk “meremajakan” bumi dengan tetap bersahabat pada motif dasar manusia; mendapatkan tingkat “kesejahteraan” yang memadai. Dan investasi kayu sengon adalah tawaran kami –Birruna- untuk menghijaukan negeri sekaligus meningkatkan kesejahteraan kita. Ayo, kita hijaukan negeri kita, Indonesia!

Boy, Nikmatnya Kayu Sengon

Februari 8, 2010

Bisnis kayu albasia atau lebih dikenal dengan nama sengon merupakan salah satu bisnis yang tak surut diterpa krisis keuangan global. Selama krisis global masih berlangsung, permintaan kayu lapis berbahan baku sengon, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, tetap stabil.

Bahkan, untuk pasar ekspor, semakin banyak negara yang meminati kayu olahan dari sengon. Dulu, pembelinya sebagian besar dari kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Kini, pasar baru bermunculan, seperti negara-negara Afrika, Timur Tengah, dan Asia.
Fenomena itu yang dirasakan Denny Wijaya, salah satu eksportir kayu olahan terbesar di Indonesia. ”Seiring krisis, ekspor kayu ke AS dan Eropa turun drastis. Padahal, selama ini sebagian besar kayu olahan kami diekspor ke sana. Kami lalu mencari pasar baru di Timur Tengah dan Afrika yang tidak terlalu terguncang krisis. Ternyata animo di sana besar,” kata Denny yang biasa disapa Boy.

Masyarakat di Timur Tengah dan beberapa negara Afrika sangat menyukai produk kayu lapis berbahan baku sengon. Mereka menggunakannya untuk berbagai keperluan, dari untuk dudukan cor, furnitur, sampai instrumen desain interior untuk pelapis dinding dan plafon.

Untuk meningkatkan nilai tambah dan variasi, Boy pun menyediakan papan-papan olahan sengon dalam berbagai bentuk, seperti plywood, lumber core, blockboard, fancy board, melamine board, dan laminating board.

Alhasil, volume ekspor kayu olahan milik Boy tetap stabil di tengah krisis. Setiap bulan, ia masih bisa mengekspor kayu sengon 600 kontainer bernilai 15 juta dollar AS (sekitar Rp 150 miliar). Pemutusan hubungan kerja (PHK) pun bisa dihindari. Sekitar 7.000 karyawan akhirnya tetap bisa bekerja di pabrik-pabrik kayu lapis milik Boy, salah satunya Bina Kayu Lestari di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Ribuan petani sengon binaan Boy juga bisa bertahan. Sejak awal berbisnis kayu sengon, Boy tidak menanam sendiri, tetapi bermitra dengan para petani. Sampai saat ini ia telah bermitra dengan 18.000 petani dalam 87 kelompok tani yang tersebar di Tasik, Garut, Banjar, Kuningan, dan Ciamis dengan total lahan sekitar 8.000 hektar.
Kayu lapis sengon diminati karena harganya kompetitif dan kualitasnya bersaing. Harga sengon relatif lebih murah karena mudah ditanam.

Budidaya albasia tergolong mudah dan cepat. Pohon ini relatif mudah beradaptasi dalam berbagai lingkungan, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Budidaya albasia dimulai saat penyemaian. Bibit albasia ditanam pada polybag, setelah berumur 3 bulan dipindahkan ke lahan garapan. Umur pohon albasia relatif pendek, hanya lima tahun, dan sepanjang umur tersebut petani mengalami tiga kali masa panen, yaitu dua kali penjarangan dan satu kali panen besar. Satu lagi kemudahan dalam perdagangan kayu albasia adalah tidak memerlukan surat izin dari Dinas Kehutanan seperti yang terjadi pada kayu jati.

Selanjutnya kayu log dari petani diolah dalam berbagai bentuk. Umumnya, kayu sengon dijadikan lapisan pengisi dari papan, bisa dalam bentuk lapisan kayu, kulit, atau serbuk. Selanjutnya, bagian luar papan dilapisi kayu berkualitas, seperti jati.
Namun, kata Boy, untuk menjadi eksportir kayu sengon yang sukses tidak cukup hanya kemampuan teknis mengolah kayu. ”Yang lebih penting adalah menjaga kepercayaan pelanggan. Caranya, dengan pengiriman barang tepat waktu, suplai yang berkesinambungan, dan kualitas yang terjaga,” kata Boy.

Dalam berbisnis, pengusaha jangan hanya berpikir untung, tetapi bagaimana usaha bisa langgeng dalam jangka panjang.

Sejak muda Boy memulai bisnis kayu sejak usia 17 tahun. Awalnya ia hanya jual beli kayu untuk pasar sekitar. Kayu yang dijual pun tidak hanya sengon. Seiring waktu, Boy berkeinginan untuk fokus pada kayu sengon saja.

Boy berpikir suatu saat kayu berkualitas tinggi akan habis mengingat masa tanamnya lama. Penebangan pohon pun akan merusak lingkungan. Sementara kayu sengon terserak di berbagai tempat, termasuk di pekarangan rumah. Masa tanam yang cepat membuat pasokan kayu sengon tak pernah habis. Sengon juga menyuburkan tanah, tak seperti tanaman keras lain yang memiskinkan tanah.

Selain itu, jika kayu sengon diolah secara inovatif dan mengombinasikannya dengan kayu berkualitas, produk yang dihasilkan tentu akan digemari orang.
Oleh karena itulah, dari hanya sekadar berdagang kayu balok, Boy mulai melakukan inovasi membuat berbagai produk, seperti pintu dari sengon yang dilapisi kayu mahal, seperti jati. Usaha ini diminati pelanggan di Tasikmalaya dan sekitarnya.

Usaha Boy meningkat signifikan tatkala mendapat kredit dari Bank Negara Indonesia pada tahun 1998. BNI memberi pinjaman Rp 10 miliar, sebuah nilai yang awalnya Boy pesimistis bisa mendapatkannya. Dengan dana itu, Boy pun leluasa membangun pabrik pengolahan kayu. Dengan pabrik baru, kapasitas usaha dan kesinambungan pasokan bisa terjaga.

Boy pun mulai memberanikan diri menjajal pasar ekspor. Ia mulai dengan mengekspor satu kontainer pintu dari kayu albasia ke Korea Selatan senilai 32.000 dollar AS. Sukses ekspor perdana tersebut membangkitkan semangat Boy untuk mengembangkan sayap ke Jepang, Eropa, AS, dan Asia Timur.

Untuk meningkatkan semangat dan motivasi para petani sengon binaan, Boy selalu memberikan 100 bibit albasia cuma-cuma kepada petani yang telah panen. Ia juga membeli sengon petani dengan harga baik. Saat ini, harga kayu sengon sekitar Rp 600.000 per meter kubik. Untuk memenuhi permintaan ekspor, Boy membutuhkan bahan baku 5.000 meter kubik kayu sengon per bulan.

Saat ini Boy sudah tidak lagi main di pasar lokal. Ia tidak mau serakah. Ia justru berharap para pemain di pasar domestik berkembang menjadi eksportir.

M Fajar Marta
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/04/03460489/boy.nikmatnya.kayu.sengon

Hello world!

Februari 2, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.