Boy, Nikmatnya Kayu Sengon

Bisnis kayu albasia atau lebih dikenal dengan nama sengon merupakan salah satu bisnis yang tak surut diterpa krisis keuangan global. Selama krisis global masih berlangsung, permintaan kayu lapis berbahan baku sengon, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, tetap stabil.

Bahkan, untuk pasar ekspor, semakin banyak negara yang meminati kayu olahan dari sengon. Dulu, pembelinya sebagian besar dari kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Kini, pasar baru bermunculan, seperti negara-negara Afrika, Timur Tengah, dan Asia.
Fenomena itu yang dirasakan Denny Wijaya, salah satu eksportir kayu olahan terbesar di Indonesia. ”Seiring krisis, ekspor kayu ke AS dan Eropa turun drastis. Padahal, selama ini sebagian besar kayu olahan kami diekspor ke sana. Kami lalu mencari pasar baru di Timur Tengah dan Afrika yang tidak terlalu terguncang krisis. Ternyata animo di sana besar,” kata Denny yang biasa disapa Boy.

Masyarakat di Timur Tengah dan beberapa negara Afrika sangat menyukai produk kayu lapis berbahan baku sengon. Mereka menggunakannya untuk berbagai keperluan, dari untuk dudukan cor, furnitur, sampai instrumen desain interior untuk pelapis dinding dan plafon.

Untuk meningkatkan nilai tambah dan variasi, Boy pun menyediakan papan-papan olahan sengon dalam berbagai bentuk, seperti plywood, lumber core, blockboard, fancy board, melamine board, dan laminating board.

Alhasil, volume ekspor kayu olahan milik Boy tetap stabil di tengah krisis. Setiap bulan, ia masih bisa mengekspor kayu sengon 600 kontainer bernilai 15 juta dollar AS (sekitar Rp 150 miliar). Pemutusan hubungan kerja (PHK) pun bisa dihindari. Sekitar 7.000 karyawan akhirnya tetap bisa bekerja di pabrik-pabrik kayu lapis milik Boy, salah satunya Bina Kayu Lestari di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Ribuan petani sengon binaan Boy juga bisa bertahan. Sejak awal berbisnis kayu sengon, Boy tidak menanam sendiri, tetapi bermitra dengan para petani. Sampai saat ini ia telah bermitra dengan 18.000 petani dalam 87 kelompok tani yang tersebar di Tasik, Garut, Banjar, Kuningan, dan Ciamis dengan total lahan sekitar 8.000 hektar.
Kayu lapis sengon diminati karena harganya kompetitif dan kualitasnya bersaing. Harga sengon relatif lebih murah karena mudah ditanam.

Budidaya albasia tergolong mudah dan cepat. Pohon ini relatif mudah beradaptasi dalam berbagai lingkungan, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Budidaya albasia dimulai saat penyemaian. Bibit albasia ditanam pada polybag, setelah berumur 3 bulan dipindahkan ke lahan garapan. Umur pohon albasia relatif pendek, hanya lima tahun, dan sepanjang umur tersebut petani mengalami tiga kali masa panen, yaitu dua kali penjarangan dan satu kali panen besar. Satu lagi kemudahan dalam perdagangan kayu albasia adalah tidak memerlukan surat izin dari Dinas Kehutanan seperti yang terjadi pada kayu jati.

Selanjutnya kayu log dari petani diolah dalam berbagai bentuk. Umumnya, kayu sengon dijadikan lapisan pengisi dari papan, bisa dalam bentuk lapisan kayu, kulit, atau serbuk. Selanjutnya, bagian luar papan dilapisi kayu berkualitas, seperti jati.
Namun, kata Boy, untuk menjadi eksportir kayu sengon yang sukses tidak cukup hanya kemampuan teknis mengolah kayu. ”Yang lebih penting adalah menjaga kepercayaan pelanggan. Caranya, dengan pengiriman barang tepat waktu, suplai yang berkesinambungan, dan kualitas yang terjaga,” kata Boy.

Dalam berbisnis, pengusaha jangan hanya berpikir untung, tetapi bagaimana usaha bisa langgeng dalam jangka panjang.

Sejak muda Boy memulai bisnis kayu sejak usia 17 tahun. Awalnya ia hanya jual beli kayu untuk pasar sekitar. Kayu yang dijual pun tidak hanya sengon. Seiring waktu, Boy berkeinginan untuk fokus pada kayu sengon saja.

Boy berpikir suatu saat kayu berkualitas tinggi akan habis mengingat masa tanamnya lama. Penebangan pohon pun akan merusak lingkungan. Sementara kayu sengon terserak di berbagai tempat, termasuk di pekarangan rumah. Masa tanam yang cepat membuat pasokan kayu sengon tak pernah habis. Sengon juga menyuburkan tanah, tak seperti tanaman keras lain yang memiskinkan tanah.

Selain itu, jika kayu sengon diolah secara inovatif dan mengombinasikannya dengan kayu berkualitas, produk yang dihasilkan tentu akan digemari orang.
Oleh karena itulah, dari hanya sekadar berdagang kayu balok, Boy mulai melakukan inovasi membuat berbagai produk, seperti pintu dari sengon yang dilapisi kayu mahal, seperti jati. Usaha ini diminati pelanggan di Tasikmalaya dan sekitarnya.

Usaha Boy meningkat signifikan tatkala mendapat kredit dari Bank Negara Indonesia pada tahun 1998. BNI memberi pinjaman Rp 10 miliar, sebuah nilai yang awalnya Boy pesimistis bisa mendapatkannya. Dengan dana itu, Boy pun leluasa membangun pabrik pengolahan kayu. Dengan pabrik baru, kapasitas usaha dan kesinambungan pasokan bisa terjaga.

Boy pun mulai memberanikan diri menjajal pasar ekspor. Ia mulai dengan mengekspor satu kontainer pintu dari kayu albasia ke Korea Selatan senilai 32.000 dollar AS. Sukses ekspor perdana tersebut membangkitkan semangat Boy untuk mengembangkan sayap ke Jepang, Eropa, AS, dan Asia Timur.

Untuk meningkatkan semangat dan motivasi para petani sengon binaan, Boy selalu memberikan 100 bibit albasia cuma-cuma kepada petani yang telah panen. Ia juga membeli sengon petani dengan harga baik. Saat ini, harga kayu sengon sekitar Rp 600.000 per meter kubik. Untuk memenuhi permintaan ekspor, Boy membutuhkan bahan baku 5.000 meter kubik kayu sengon per bulan.

Saat ini Boy sudah tidak lagi main di pasar lokal. Ia tidak mau serakah. Ia justru berharap para pemain di pasar domestik berkembang menjadi eksportir.

M Fajar Marta
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/04/03460489/boy.nikmatnya.kayu.sengon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: